Sebagai mana telah kita ketahui dalam undang-undang telah di Undang-Undang Nomor Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 23, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 5656) yang di atur setiap 5 tahun sekali melakukan pergantian atau pemilihan peminpin yang baru atau dengan sebutan pilkada.
Dalam pilkada 5 tahun yang lalu terjadi yang namanya keretakan silaturrahmi di antara para kandidat dengan kandidat dan begitu juga dengan para pendukung kandidat tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Keretakan silaturahmi adalah memutuskan hubungan kerabat berupa hubungan kasih-sayang, tolong-menolong, berbuat baik, menyampaikan hak dan kebaikan, serta menolak keburukan dari kerabat atau dengan persaudaraan.
Di dalam pertarungan pilkada tentu kita harus siap menang dan harus siap kalah baik itu dalam setrategi pencarian masa atau suara dan juga hasil perolehan suara yang kita dapatkan nantinya. Pada pertarungan pilkada yang 5 tahun yang lalu yang terjadi di berbagi daerah terutama sekali di daerah kap. Gayo lues terjadi keretakan silaturrahmi antar masyarakat-masyarakat yang memiliki pilihan calon kandidat yang berbeda-beda masyarakat yang memilih pasangan calon kandidat A, seakan tidak percaya lagi kepada kandidat yang lain dapat memenangkan pilkada itu, dan tidak Cuma seperti itu para pendukung pasangan kandidat A ini menjelek-jelekan pasangan calon kandidat yang lain, jadi para pendukung dari pasangan itu juga tidak mau tinggal diam dan terjadi konflik ringan antar pendukung dari pasangan calon yang saling menjatuhkan, menjelekan dari masing-masing pendukung calon.
Dan setelah masa kampanye selsai tinggalah tahapan terakir yaitu penghitungan suara yang di lakukan oleh KIP siapa yang sebenarnya yang akan menangkan pilkada itu. pasngan calon dan para pendukung semakin penasaran dengan keputsan KIP siapa yang menang dan siapa yang kalah, ternyata pada pilkda itu pasangan dari calon A kalah dalam penghitungan suara yang di lakukan oleh KIP dan juga bayaknya saksi dari relawan para kandidat lainya. Pasangan dari beberapa kandidat tidak menerima dengan kekalahanya begitu juga dengan masyarakat pendukung kandidat itu karna mereka sudah yakin bahwa calonya yang akan memenangkan kandidat pada akirnya masyarakat tidak menerima dan mencurigai bahwah telah terjadi kecurangan di kantor KIP dan juga di berbagi penghitungan suara seperti halnya di kantor camat setempat, dengan memanasnya masyarakat tanpa memikirkan bayak hal lebih panjang terjadi saling adu mulut dan akirya bentrok antara masyarakat yang lainyapun terjadi kejadian tersebut sempat kondusip beberapa jam setelah polisi mengamankan warga-warga yang mengamuk, dan beberapa jam kemudian datang masyarakat yang jumlahnya sangat banyak membawa peralatan seperti halnya siap perang dan pada akirnya melempari kantor KIP dan juga kantor-kantor camat yang terdekat di daerah kota dengan batu dan sekaligus membakar kantor tersebut polisi setempat tidak mampu dan kewalahan dalam menghalau banyaknya masa yang datang dan bukan haya kantor KIP yang di bakar melainkan kantor-kantor camat ikut di bakar karna masyarakat mencurigai bahwa kantor camat juga melakukan kecurangan saat membawa hasil perhitungan suara ke kantor KIP.
Konflik antar masyarakat dan juga para kandidat ini terjadi karna sebagian besar masyarakat seakan membawa perasaan mereka dalam pilkada tersebut seakan masyarakat sudah mempuyai hubungan yang erat atau hubungan pamiley dengan para calon-calon kandidat mereka, selain itu juga mereka termakan oleh rayuan-rayuan yang di paparkan oleh para komunikator-komunikator dari para calon kandidat itu sehingga masyarakat terlena dan dan percaya betul dengan apa yang di katakan oleh komunikator kandidat tersbut seakan tidak mau lagi berpaling untuk memilih para calon yang lain, selain itu para kandidat ini selalu memberikan masukan dan juga keyakinan bagi masyarakat agar masyarakat terikat kepada para kandidat sebagai contohnya memberi kebutuhan-kebutuhan pokok pada masyarakat sehingga masyarakat merasa adanya hubungan balas jasa dan tidak enak hati berpaling dalam menentukan pilihanya yang lain karna kandidat tersebut.
Selain itu ada faktor lain yang mempengaruhi pikiran masyarakat sepertihalnya dalam pendidikan : dalam hal ini masyarakat yang kurang di bagian pendidikan sangat terpengaruh oleh proprakator yang ingin memenangkan dan memperjuangkan kandidatnya dengan menghasut orang yang kurang berpendidikan dan tanpa berpikir panjang orang ini sudah terasut dalam ajakan orang tersebut.
Dan juga adanaya faktor ekonomi : dalam hal ini yang mana para pasangan calon telah memberikan beberapa macam kebutuhan pokok kepada masyarakat sehingga masyarakat takut dengan keadaan yang telah di berikan akan dimintai kembali oleh para calon yang kalah. Dengan ini masyarakat masih ada yang namanya keterikatan kepada pemberian orang lain.
Dan faktor pamiley : pada faktor inilah yang lebih parah dari pada yang lain, mengapa selain dari familey ini mendukung penuh dari calon kandidatnya (pamili) mereka juga sangat berpartisipasi dalam mencari dukungan dan mengagung-agungkan kandidatnya alias familie, dan ketika kandidatnya tiadak memenangkan pilkada dan dia tau adanya kecurangan yang di lakukan oleh beberapa aktor maka dialah yang paling utama berpersi kesras emosi dan melakukan bentrok antar masyarakat lain dan juga pihak keamanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar