Selasa, 06 Juni 2017

hubungan sipin & meliter paca DOM aceh

HUBUNGAN SIPIL

DAN MELITER PASCA DOM ACEH

Perlu kita ketahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan Sipil dan Militer. Perkataan Sipil merupakan satu pengertian yang menyangkut kewarganegaraan, Atau dapat dikatakan bahwa Sipil adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan masyarakat, atau warga negara pada umumnya. Sedangkan perkataan militer berarti Tentara Nasional Indonesia, yaitu organisasi yang merupakan kekuatan bersenjata dan yang harus menjaga kedaulatan negara Republik Indonesia. Karena Sipil berarti masyarakat, maka sebenarnya Militer pun bagian dari masyarakat. Oleh sebab itu di Indonesia sebelum terpengaruh oleh pandangan Barat dipahami bahwa TNI adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Bahkan yang menjadi TNI adalah seluruh Rakyat yang sedang bertugas sebagai kekuatan bersenjata untuk membela Negara.

            Yang mana Aceh umumnya masyarakat aceh salah suatu daerah yang mengalami konfik berkepanjangan dengan pemerintah RI (Repubik Indonesia) mulai dari tahun 1990 sampai dengan 1998  yang mana daerah aceh atau dengan sebutan lainnya ialah gerakan aceh merdeka (GAM) yang ingin memisahkan diri dengan negara kesatuan republik indinesia (NKRI), dengan alasan-alasan tertentu yang mana pada saat itu pemrintah RI mengerahkan para meliternya untuk mencegah pemberontakan yang terjadi di aceh atau dengan kata lain aceh sebagi daerah oprasi meliter (DOM), akan tetapi GAM juga tidak mau kalah dengan pemerintah RI yang menerjunkan pasukan meliternya, GAM juga memperkuat pasukannya dan tetap inggin memisahkan diri dari indonesia karna ketidak adilan dan masih banyak alasan yang lainya seperti
Aceh merasa tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun. Keyakinan ini berdasarkan kenyataan yang terdapat pada masyarakat, bahwa  rakyat aceh sejak jaman Iskandar Muda, jaman Belanda, Jepang, dan NKRI, mereka selalu melakukan perlawan, perang fisik atau dengan usaha mempertahankan hak kemerdekaan agar keadaan yang diinginkan tidak berubah dengan cara perlawanan senjata yang seering kita dengar dengan babu runcingnya terhadap kekuatan asing yang bermaksud untuk menjajah. Bahkan, NKRI dianggapnya sebagai negara imperialis, maka mereka ingin memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh.
Soekarno tidak menepati janjinya, Pada saat pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945, Aceh menyumbangkan pesawat terbang pertama RI yang uangnya dikumpulkan dari pintu-ke pintu, dari kantong rakyat Aceh sendiri. Dan, mereka sepakat bergabung, melakukan revolusi fisik melawan Belanda bersama NKRI dengan kompensasi kalau Belanda sudah kalah, maka Aceh akan mengurus pemerintahannya sendiri dengan penerapan syariat Islam.
Mereka yakin bahwa sumber daya alamnya telah diambil oleh RI karena sentralistik Orde Baru telah meresap ke ranah ekonomi, dan pembagiannya tidak seimbang. Dan masih banyak sekali alasan-alasan lainnya  yang di inginkan rakyat aceh yang harus di berikan oleh Pemerintah indonesia, akan tetapi pemerintah indonesia tidak memberikan semua permintaan yang di inginkan oleh rakyat aceh, sehingga masyarakat aceh memberontak terhadap permerintah indonesia atau RI yang mana aceh ingin membagun pemerintahan sendiri ( merdeka) dari RI. Tetapi Pemerintah RI mencari jalan agar aceh tidak akan pisah dari indonesia sehingga pemerintah RI menetapkan aceh sebagai daerah oprasi meliter (DOM).
            Keberadaan DOM di aceh membuat kurangnya keharmonisan hubungan antara masyarakat sipil dengan meliter, yang mana meliter seharusnya melindungi masyarakat-masyarakat sipil dari ketidak nyamanan atau yang bersipat mengganggu. Akan tetapi keberadaan meliter di aceh padah masa oprasi meliter membuat seluruh rakyat aceh takut dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan meliter ini. seperti yang terjadi di gayo lues dan daerah lainya juga, karena para meliter membatasi ruang gerak masyarakat yang mana masyarakat tidak bisa pergi bekerja untuk mencari nafkah ke kebun juka salah satu masyarakat ke tahun pergi kekebun untuk mencari nafkah maka para meliter akan memangil masyarakat yang bersangkutan dan akan di intropeksi atau di mintai keterangan, bukan hanya itu para meliter juga membatasi kegiatan-kegiatan malam yang ada di perkampungan seperti pengajian baik itu pengajian anak-anak dan sampai pada pengajian orang tua, meliter menganggap keberadaan ini akan memnimbilkan gerakan yang bersekonkol dengan tentara aceh (GAM). Bukan hanya itu di mana masyarakat sipil dipaksa untuk berpartisipasi dalam intelijen dan dalam operasi keamanan, dan masyarakat dipaksa maju di barisan terdepan  yang berbaur dengan TNI, sehingga pasukan bersenjata dari GAM kesulitan dalam menentukan tembakan baik dalam rangka untuk menghalau pemberontak dan juga untuk menghambat mereka untuk membalas tembakan terhadap TNI. Dan bukan hanya itu para TNI juga banyak kasus kekerasan dan melakukan pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil di berbagai wilahyah aceh, seperti pemerkosaan dan juga hamil selama oprasi meliter berada di wilayah tersebut, menembak mati masyarakat sipil yang tidak jelas sebap musabapnya, dan menculik para lelaki baik remaja sampai dengan orang tua yang di introfeksi dan di pulangkan setelah membawa luka baik. Keberadaan oprasi meliter di aceh memang betul-betul membawa luka tersendiri bagi masyarakat aceh dan seakan sulit untuk di lupakan karna banyaknya kekerasan yang di lakukan melampaui batas oleh pasukan meliter kepada masyarakat.
Jika di lihat kembali hubungan sipil dengan meliter paca DOM ialah yang mana  masyarakat seakan masih mempunyai rasa takut dan nggan jika melihat para meliter-meliter , dan ini di sebapkan karna,  adalah  fakta bagi masrakat betapa kejamnya perlakuan kekerasan yang di lakukan oleh aparat terhadap kaum perempuan, dan beberapa diantaranya korban meninggal dunia, bahkan beberapa yang lain berada dalam kondisi fisik dan psikologi yang sangat berat. penerapan DOM ini juga telah membuat masyarakat Aceh tertindas dan secara psikologis menderita yang menyebabkan pengalaman traumatis dan symptom sosial pada sebagian besar masyarakat Aceh. walupun pemerintah RI  telah menarik meliter dari aceh akan tetapi pemerintah mendatangkan meliter hanya bersetatus kontrol petugas keamanan, Kehadirannya di aceh  seakan menyebabkan guncangan psikologis yang luar biasa bagi masyarakat, mereka akan serba salah dalam menghadapi kontrol petugas keamanan tersebut. Merka akan dihantui ketakutan kalau-kalau akan bernasib seperti DOM atau dalam arti masih adanya kontak senjata di antara ke dua belah pihak, artinya masyarakat mengalami teroma yang tinggi terhadap meliter-meliter yang bertugas dan tidak mudah bagi masyarakat untuk melupakan kejadian itu dan tidak mudah juga untuk memaafkan para-para pelaku kekerasan yang terjadi pada masa lalu itu. Mereka merasa diperlakukan sebagai tamu di negeri sendiri. Padahal, dalam sejarah perjalanan bangsa ini, Aceh memiliki keistimewaan tersendiri karena luput dari kolonialisme, terkenal mampu menyiasati penjajahan sehingga penjajah pun tak bisa menguasai wilayah itu.
Akan tetapi jika dilihat pada masa sekarang ini atau reformasi keberadaan meliter seakan sudah bisa menghilangkan trauma-trauma yang terjadi pada masyarakat dan sudah berbaur dengan masyarakat-masyarakat dan juga mengikuti apa-apa yang menjadi aktivitas masyarakat seperti menanam padi para petani bahkan para TNI ikut serta dalam memanen padi masyarakat tersebut, bukan haya sekedar itu pata TNI juga dalam melestarikan peternak sapi di berbagi tempat.

Selain itu TNI membuat program menunggul membangun desa (TMMD) sehingga dalam memeriahkan aceara tersebut melibatkan masyarakat mulai dari anak-anak remaja, hinga orang tua yang mana di dalam perogram mereka sangat menguntungkan para masyarakat di kawasan itu seperti program fisik maupun nonfisik, seperti  dalam pembangunan jalan lintas antar dusun sepanjang 3.100 meter dan, membuat jembatan yang beertujuan agar mempermudah masyarakat dalam megakses saat panen hasil perkebunan mereka. Dan membuka pengobatan masal geratis, donor darah,  dan membagun rumah dhufa 2 unit, dan merehap menasah di gampong lamsiteh cot, kecamatan aceh besar kota malaka (7/5serambi). Program ini menunjukan berbagai pencitraan bagi para TNI sehingga masyarakat lupa dengan kejadian pada DOM yang silam, dan sehinga masyarakat memandang baiknya para TNI kepada masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar