HUBUNGAN SIPIL
DAN MELITER PASCA DOM ACEH
Perlu kita ketahui terlebih
dahulu apa yang dimaksudkan dengan Sipil dan Militer. Perkataan Sipil merupakan
satu pengertian yang menyangkut kewarganegaraan, Atau dapat dikatakan bahwa
Sipil adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan masyarakat, atau warga
negara pada umumnya. Sedangkan perkataan militer berarti Tentara Nasional
Indonesia, yaitu organisasi yang merupakan kekuatan bersenjata dan yang harus
menjaga kedaulatan negara Republik Indonesia. Karena Sipil berarti masyarakat,
maka sebenarnya Militer pun bagian dari masyarakat. Oleh sebab itu di Indonesia
sebelum terpengaruh oleh pandangan Barat dipahami bahwa TNI adalah bagian tak
terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Bahkan yang menjadi TNI adalah seluruh
Rakyat yang sedang bertugas sebagai kekuatan bersenjata untuk membela Negara.
Yang mana Aceh umumnya masyarakat aceh salah suatu daerah
yang mengalami konfik berkepanjangan dengan pemerintah RI (Repubik Indonesia)
mulai dari tahun 1990 sampai dengan 1998 yang mana daerah aceh atau dengan sebutan lainnya
ialah gerakan aceh merdeka (GAM) yang ingin memisahkan diri dengan negara kesatuan
republik indinesia (NKRI), dengan alasan-alasan tertentu yang mana pada saat
itu pemrintah RI mengerahkan para meliternya untuk mencegah pemberontakan yang
terjadi di aceh atau dengan kata lain aceh sebagi daerah oprasi meliter (DOM),
akan tetapi GAM juga tidak mau kalah dengan pemerintah RI yang menerjunkan
pasukan meliternya, GAM juga memperkuat pasukannya dan tetap inggin memisahkan
diri dari indonesia karna ketidak adilan dan masih banyak alasan yang lainya
seperti
Aceh
merasa tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun. Keyakinan ini berdasarkan kenyataan
yang terdapat pada masyarakat, bahwa rakyat aceh sejak jaman Iskandar Muda, jaman
Belanda, Jepang, dan NKRI, mereka selalu melakukan perlawan, perang fisik atau dengan usaha mempertahankan hak kemerdekaan agar keadaan yang
diinginkan tidak berubah dengan cara perlawanan senjata yang seering kita
dengar dengan babu runcingnya terhadap kekuatan asing yang bermaksud untuk
menjajah. Bahkan, NKRI dianggapnya sebagai negara imperialis, maka mereka ingin
memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh.
Soekarno
tidak menepati janjinya, Pada saat pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945, Aceh
menyumbangkan pesawat terbang pertama RI yang uangnya dikumpulkan dari pintu-ke
pintu, dari kantong rakyat Aceh sendiri. Dan, mereka sepakat bergabung,
melakukan revolusi fisik melawan Belanda bersama NKRI dengan kompensasi kalau
Belanda sudah kalah, maka Aceh akan mengurus pemerintahannya sendiri dengan
penerapan syariat Islam.
Mereka
yakin bahwa sumber daya alamnya telah diambil oleh RI karena sentralistik Orde
Baru telah meresap ke ranah ekonomi, dan pembagiannya tidak seimbang. Dan masih banyak sekali
alasan-alasan lainnya yang di inginkan
rakyat aceh yang harus di berikan oleh Pemerintah indonesia, akan tetapi
pemerintah indonesia tidak memberikan semua permintaan yang di inginkan oleh
rakyat aceh, sehingga masyarakat aceh memberontak terhadap permerintah
indonesia atau RI yang mana aceh ingin membagun pemerintahan sendiri ( merdeka)
dari RI. Tetapi Pemerintah RI mencari jalan agar aceh tidak akan pisah dari
indonesia sehingga pemerintah RI menetapkan aceh sebagai daerah oprasi meliter
(DOM).
Keberadaan DOM di aceh membuat kurangnya keharmonisan
hubungan antara masyarakat sipil dengan meliter, yang mana meliter seharusnya
melindungi masyarakat-masyarakat sipil dari ketidak nyamanan atau yang bersipat
mengganggu. Akan tetapi keberadaan meliter di aceh padah masa oprasi meliter
membuat seluruh rakyat aceh takut dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan meliter
ini. seperti yang terjadi di gayo lues dan daerah lainya juga, karena para
meliter membatasi ruang gerak masyarakat yang mana masyarakat tidak bisa pergi
bekerja untuk mencari nafkah ke kebun juka salah satu masyarakat ke tahun pergi
kekebun untuk mencari nafkah maka para meliter akan memangil masyarakat yang
bersangkutan dan akan di intropeksi atau di mintai keterangan, bukan hanya itu
para meliter juga membatasi kegiatan-kegiatan malam yang ada di perkampungan
seperti pengajian baik itu pengajian anak-anak dan sampai pada pengajian orang
tua, meliter menganggap keberadaan ini akan memnimbilkan gerakan yang
bersekonkol dengan tentara aceh (GAM). Bukan hanya itu di mana masyarakat sipil dipaksa untuk berpartisipasi dalam intelijen
dan dalam operasi keamanan, dan masyarakat dipaksa maju di barisan terdepan yang berbaur dengan TNI, sehingga pasukan
bersenjata dari GAM kesulitan dalam menentukan tembakan baik dalam rangka untuk
menghalau pemberontak dan juga untuk menghambat mereka untuk membalas tembakan
terhadap TNI. Dan bukan hanya itu para TNI juga banyak kasus kekerasan dan
melakukan pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil di berbagai wilahyah aceh,
seperti pemerkosaan dan juga hamil selama oprasi meliter berada di wilayah
tersebut, menembak mati masyarakat sipil yang tidak jelas sebap musabapnya, dan
menculik para lelaki baik remaja sampai dengan orang tua yang di introfeksi dan
di pulangkan setelah membawa luka baik. Keberadaan oprasi meliter di aceh memang
betul-betul membawa luka tersendiri bagi masyarakat aceh dan seakan sulit untuk
di lupakan karna banyaknya kekerasan yang di lakukan melampaui batas oleh
pasukan meliter kepada masyarakat.
Jika di
lihat kembali hubungan sipil dengan meliter paca DOM ialah yang mana masyarakat seakan masih mempunyai rasa takut
dan nggan jika melihat para meliter-meliter , dan ini di sebapkan karna, adalah
fakta bagi masrakat betapa kejamnya perlakuan kekerasan yang di lakukan
oleh aparat terhadap kaum perempuan, dan beberapa diantaranya korban meninggal
dunia, bahkan beberapa yang lain berada dalam kondisi fisik dan psikologi yang
sangat berat. penerapan DOM ini juga
telah membuat masyarakat Aceh tertindas dan secara psikologis menderita yang
menyebabkan pengalaman traumatis dan symptom sosial pada sebagian besar
masyarakat Aceh. walupun pemerintah RI telah
menarik meliter dari aceh akan tetapi pemerintah mendatangkan meliter hanya
bersetatus kontrol petugas keamanan, Kehadirannya di aceh seakan menyebabkan guncangan psikologis yang
luar biasa bagi masyarakat, mereka akan serba salah dalam menghadapi kontrol
petugas keamanan tersebut. Merka akan dihantui ketakutan kalau-kalau akan
bernasib seperti DOM atau dalam arti masih adanya kontak senjata di antara ke
dua belah pihak, artinya masyarakat mengalami teroma yang tinggi
terhadap meliter-meliter yang bertugas dan tidak mudah bagi masyarakat untuk
melupakan kejadian itu dan tidak mudah juga untuk memaafkan para-para pelaku
kekerasan yang terjadi pada masa lalu itu. Mereka merasa diperlakukan sebagai tamu di negeri sendiri. Padahal,
dalam sejarah perjalanan bangsa ini, Aceh memiliki keistimewaan tersendiri
karena luput dari kolonialisme, terkenal mampu menyiasati penjajahan sehingga
penjajah pun tak bisa menguasai wilayah itu.
Akan
tetapi jika dilihat pada masa sekarang ini atau reformasi keberadaan meliter
seakan sudah bisa menghilangkan trauma-trauma yang terjadi pada masyarakat dan
sudah berbaur dengan masyarakat-masyarakat dan juga mengikuti apa-apa yang
menjadi aktivitas masyarakat seperti menanam padi para petani bahkan para TNI
ikut serta dalam memanen padi masyarakat tersebut, bukan haya sekedar itu pata
TNI juga dalam melestarikan peternak sapi di berbagi tempat.
Selain
itu TNI membuat program menunggul membangun desa (TMMD) sehingga dalam
memeriahkan aceara tersebut melibatkan masyarakat mulai dari anak-anak remaja,
hinga orang tua yang mana di dalam perogram mereka sangat menguntungkan para
masyarakat di kawasan itu seperti program fisik maupun nonfisik, seperti dalam pembangunan jalan lintas antar dusun sepanjang
3.100 meter dan, membuat jembatan yang beertujuan agar mempermudah masyarakat
dalam megakses saat panen hasil perkebunan mereka. Dan membuka pengobatan masal
geratis, donor darah, dan membagun rumah
dhufa 2 unit, dan merehap menasah di gampong lamsiteh cot, kecamatan aceh besar
kota malaka (7/5serambi). Program ini menunjukan berbagai pencitraan bagi para
TNI sehingga masyarakat lupa dengan kejadian pada DOM yang silam, dan sehinga masyarakat memandang baiknya para TNI kepada masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar